Chandra Ekajaya Putar Roda Bisnis

Chandra Ekajaya Restoran

Pengusaha Chandra Ekajaya mengatakan bahwa sektor bisnis kuliner tidak akan pernah mati. Sektor bisnis ini akan terus berputar laksana roda yang terus dikayuh tanpa henti. Salah satu bentuk sekaligus bukti bahwa bisnis di sektor ini tidak pernah adalah kuliner makanan tradisional. Meskipun sudah termakan usia, tetapi makanan tradisional tetap mampu bertahan di tengah gempuran-gempuran makanan modern dan cepat saji. Memang kudapan modern serta asing yang masuk ke Indonesia dibungkus dengan promosi yang sangat gencar, sehingga makanan asing itu terkesan mewah dan lezat, padahal bila dibandingkan dengan kelezatan dan kenikmatan makanan tradisional, sudah pasti siapa yang unggul!

Negara ini dianugerahi dengan puluhan ribu pulau, baik pulau-pulau yang besar maupun pulau-pulau yang kecil. Selain itu penduduk dari negara ini terdiri dari berbagai macam etnis dan suku bangsa yang jumlahnya sangat banyak. Hal ini dilihat dari pakaian adat, bahasa daerah, serta makanan tradisional para etnis atau suku bangsa tersebut. Potensi inilah yang ingin dimaksimalkan dan dioptimalkan oleh pebisnis kuliner satu ini. Ia sedang mencanangkan konsep restoran yang menyajikan seluruh makanan tradisional di Indonesia. Sehingga masyarakat sekaligus penduduk negara ini pun bisa memahami bahwa karakter serta ciri khas tiap-tiap etnis dan suku bangsa sangat berbeda. Tetapi yang luar biasa adalah etnis dan suku bangsa yang berbeda itu bisa bersatu dengan landasan Pancasila dan dipayungi slogan Bhineka Tunggal Ika.

Sesuai dengan dasar dan slogan bangsa dan negara ini, maka pebisnis ini ingin mewujudkan konsep restoran yang menggunakan rasa persatuan dan nasionalisme. Sasarannya justru masyarakat Indonesia dan masyarakat asing. Bayangkan saja jika orang luar negeri bisa merasakan gudeg, rendang, gulai ayam, tongseng, opor telur, dan sebagainya. Lidah mereka pasti akan merasakan nikmatnya makanan-makanan tradisional. Selain itu koki-koki atau pemasaknya adalah ibu-ibu kampung yang memang sengaja dijadikan karyawan supaya konsep restoran berjalan. Alasan yang paling mendasar mengambil ibu-ibu dari kampung sebenarnya sangat sederhana, yakni karena masakan ibu-ibu tersebut enak.

Restoran Chandra Ekajaya

Proses pembuatan makanan tradisional akan lebih nikmat dan lezat jika proses pembuatannya pun menggunakan cara tradisional. Maka dari itu pilihan jatuh kepada ibu-ibu kampung yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka sangat mengerti bagaimana meracik bumbu dan memasak makanan tradisional sesuai dengan apa yang dulu telah dilakukan oleh nenek moyang. Pilihan tepat, karena selain mendapatkan cita rasa masakan yang berkualitas tinggi, ia juga dapat membantu para warga kampung yang kebanyakan pendatang. Restoran miliknya pun mendapatkan profit yang lebih banyak karena restorannya mempunyai konsep, dan hal yang paling penting dari restoran adalah rasanya enak!

Menurut ilmu perekonomian saat ini, bisnis kuliner bisa dimasukkan ke dalam cabang atau pun sub-industri dari restoran. Tetapi hal ini berbanding terbalik dengan pengertian yang dipahami oleh masyarakat luas. Masyarakat justru memahami bahwa restoran merupakan bagian atau pun sub dari sektor bisnis kuliner. Tetapi pemahaman yang terbalik ini tidak terlalu berpengaruh bagi berputarnya roda perekonomian. Sebab, selama restoran masih menyajikan makanan-makanan yang unik atau mempunyai ciri khas tersendiri, maka restoran tersebut akan selalu ramai. Setidaknya itulah pendapat yang diberikan pengusaha Chandra Ekajaya selama menekuni bisnis restorannya.

Setiap harinya restorannya selalu dikunjungi oleh para tamu dari luar negeri. Kebanyakan berasal dari benua Eropa dan Amerika. Sedangkan untuk benua Asia lebih banyak didominasi oleh warga negara Jepang. Ini menunjukkan bahwa negara Indonesia merupakan sebuah negara yang banyak dikunjungi oleh warga negara asing. Selain karena indahnya alam serta keseniannya, yang paling dicari dari negara ini adalah makanan khasnya, yaitu makanan-makanan tradisional.

Pebisnis restoran ini merupakan salah satu dari sekian banyak pebisnis yang bergerak di sektor restoran tetapi melakukan pergerakan yang visioner dan progresif. Menjadikan ibu-ibu kampung yang asal wilayahnya berbeda-beda sebagai koki atau chef untuk restorannya merupakan langkah yang harus didukung dan diacungi jempol. Meskipun banyak yang tidak berani menirunya, karena menurut mereka nantinya strategi seperti itu akan membuat biaya operasional membengkak karena terlalu banyak pegawai. Tetapi pebisnis ini tidak menyalahkan mereka yang tidak paham dengan konsep bisnis restorannya. Justru karena ia menerapkan konsep seperti itu, maka konsumen dan pelanggan terus mengalir bagaikan air terjun yang turun dari langit kahyangan.

Hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh pebisnis lain yang bergerak di sektor yang sama adalah dirinya menerapkan sistem yang sama di semua restoran miliknya. Baik yang berada di dalam negeri dan luar negeri, khususnya di hotel-hotel dan tempat-tempat strategis nan ramai, biasanya berada di jantung pusat kota. Itulah strategi yang membuat nama restoran miliknya cepat menyebar menjadi viral kuliner dan restoran yang sangat dicari oleh seluruh wisatawan, baik domestik maupun luar negeri.

Kini restoran miliknya bisa dibilang menjadi acuan bagi para wisatawan untuk mendapatkan kuliner-kuliner khas Nuswantara, terutama masakan dan makanan tradisional. Nilai plus inilah yang tidak dimiliki oleh pebisnis yang lain karena mereka masih takut terhadap risiko akan nilai operasional yang tinggi. Tetapi bagi dirinya, risiko itu setara penghasilan dan apresiasi yang ia dapatkan kini. Ia banyak memperoleh penghargaan yang terkait dengan pengelolaan bisnis dan manajemen restoran. Selain itu ia juga mendapatkan penghargaan sebagai pelestari masakan dan makanan tradisional Indonesia.

Chandra Ekajaya Restoran

Kemudian yang membedakan restoran miliknya dengan restoran yang lain adalah sambal. Restoran miliknya menawarkan berbagai macam sambal, dari sambal yang terasa manis khas Yogyakarta, hingga sambal pedas seperti sambal bawang. Varian-varian sambal yang lain pun juga disediakan, misalnya sambal tomas, sambal terong, atau pun sambal pete, dan sebagainya. Ini membuktikan bahwa masakan dan makanan tradisional beserta sambal merupakan indikator perkembangan dunia kuliner di Indonesia. Bahkan untuk generasi saat ini, berburu kuliner yang lezat dan nikmat sudah menjadi tren, lifestyle, dan gaya hidup kekinian. Bila mereka datang ke restoran ini, maka mereka tidak akan kesulitan, karena di restorannya menyediakan berbagai macam makanan yang enak dan lezat.

Selain masakan dan makanan tradisional serta sambal yang menjadi andalannya. Restoran miliknya ini menawarkan makanan yang menyehatkan. Jadi tidak perlu khawatir dengan kesehatan. Restoran ini menjamin bahwa gaya hidup sehat merupakan prioritas utama, sehingga bahan-bahan yang dipilih pun merupakan bahan pilihan yang diimpor langsung dari tempat terbaik. Kemudian mengenai cara atau proses pembuatan yang menggunakan cara tradisional, alat-alat atau pun piranti yang digunakan untuk membuat makanan tersebut sudah dipastikan bersih serta higienis. Maka mengenai kesehatan dan gaya hidup sehat, restoran ini menjadi pilihan tepat.

Pebisnis yang sudah lama bergelut di bidang restoran dan kuliner ini berhasil terus memutar roda perekonomiannya. Ia tidak ingin roda itu berhenti di tengah jalan.

Chandra Ekajaya Pengusaha Sukses Toko Sembako

Chandra Ekajaya Pengusaha Sukses Toko Sembako

Tidak ada yang tahu tentang nasib seseorang kalau dirinya sendiri tidak berusaha mencari dan berusaha mengerjakannya. Itulah kata kata Pengusaha Sukses Chandra ekajaya menjelaskan kepada kami. Chandra ekajaya dulu adalah seorang guru di salah satu guru sekolah menengah kejuruan di Kota Jogjakarta. Dengan kurang lebih dengan gaji 300.000 pada tahun 1990an. Menjalani profesinya sebagai guru yang belum menjadi pegawai negeri sipil mungkin akan kurang untuk menghidupi keluarganya di Kota besar. Dia harus bisa mencukupi isteri dan kedua orang anaknya.

Berawal dari inisiatif seorang pembantu rumah tangganya yang saat itu merawat anak ke dua bilang ke Pak Chandra ekajaya untuk dibuatkan warung sembako kecil kecilan agar dirinya ada aktifitas lain dikala senggang. Chandra ekajaya pun langsung memikirkan usulan dari si pembantunya tersebut. Ide yang sangat menarik dan dikala itu peluang tersebut belum banyak di sekitar dia tinggal. Tidak berpikir panjang lagi dia menyekat garasi rumahnya dan disitulah warung tersebut di buka. Pembantunya merasa senang karena ada kegiatan lain selain menjaga anak kedua dari Pak Chandra Ekajaya.

Banyaknya mahasiswa yang tinggal di area Chandra ekajaya tinggal sangat sekali prospek untuk menjalankan usaha. Toko pak Chandra ekajaya di banjiri mahasiswa dan masyarakat sekitar untuk membeli bahan bahan sehari hari. Apa yang di hasilkan saat itu memutuskan dirinya untuk berhenti mengabdi dan fokus mengurusi tokonya tersebut. Kesuksesannnya semakin dekat dengan dia sudah bisa membeli ruko di pinggir jalan dengan harga Rp. 57 Juta. Karyawannya bertambah dan mempunyai tugas sendiri sendiri. Semakin lama tokonya semakin ramai dan pada tahun 2003 bisa membeli 1 unit mobil, dan tahun 2008 Pengusaha sukses Chandra ekajaya bisa membuat rumah seharga Rp. 500 jt. Sukses mengantarkan anaknya untuk belajar di SMP N 1 Yogyakarta, SMA N 1 Yogyakarta.

Pengusaha Chandra ekajaya berhasil melebarkan sayap usaha nya ke bidang rumah makan dan fotokopi. Hal yang sangat penting di perhatikan disini kita hidup dan berusaha membutuhkan proses. Berhasil di bidang usaha dengan Pengusaha sukses Chandra ekajaya berhasil mengantarkan anak pertamanya lulus S2 kedokteran UMY dan dirinya juga Lulus dengan gelar M.pd.

Chandra Ekajaya Pengusaha Kambing Etawa “Dari etawa jadi ketawa”

Dok.Chandra Ekajaya

Dok.Chandra Ekajaya

Berangkat dari hobi, Chandra Ekajaya pengusaha sukses asal Malang Jawa Timur ini memutuskan untuk membuka bisnis peternakan kambing etawa di kawasan Malang Jawa Timur. Kambing etawa merupakan salah satu jenis kambing unggulan dan memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi, hal ini karena jenis ini berbeda dengan jenis kambing lokal lainya.

Usahanya ini dimulai pada tahun 2013, berawal dari hobi akan hewan ternak, Chandra Ekajaya membuka peternakan etawa. Awal usahanya dirinya membelin indukan etawa di kawasan Garut Jawa Barat. Garut menjadi salah satu kawasan peternakan etawa terkenal di Indonesia.

Dok.Chandra Ekajaya

Ketika memulai bisnis pasti ada saja rintangan dan hambatan yang menghadang di depan, itulah yang dialami oleh Chandra Ekajaya. Salah satu rintanganya adalah kendala penyediaan bibit yang unggul untuk menghasilkan susu berkualitas tinggi. Selain itu, keterbatasan pakan ternak yaitu rerumputan juga menjadi kendala lain. Kondisi ini memkasa dirinya untuk membatasi jumlah kambing yang diternakkan.

Saat ini di peternakan miliknya di kawasan Malang Jawa Timur, Chandra Ekajaya sudah memiliki 50 ekor kambing etawa. Dari jumlah tersebut, baru 20 ekor yang produktif menghasilkan susu. Di mana dalam sehari 20 ekor kambing tersebut mampu memproduksi susu sekitar 15 hingga 20 liter. Harga perliter susu berkisar antara Rp 45 ribu. Bukan hanya susu saja, kambing etawa juga memiliki nilai keonomis lain seperti daging kambing, dan anakan kambing yang dapat dijual.

Untuk masalah pakan Chandra Ekajaya tidak kebingungan selain makan rumput-rumputan alami, dirinya juga melakukan daur ulang limbah tahu dimanfaatkan untuk campuran pakan kambing etawa. Juga setiap bulan  rutin dilakukan pengecekan kesehatan kambing agar bisa terpantau kesehatan kambing tersebut dan menghasilkan susu murni yang berkualitas.

Dengan kesuksesan yang di capai Chandra Ekajaya saat ini, dari peternakan miliknya juga bisa memperdayakan masyarakat sekitar untuk bekerja di peternakan. Dirinya juga berniat untuk kembali mengembangka bisnisnya dengan memeperluas peternakan miliknya saat ini dan juga membuat peternakan baru di kawasan Garut Jawa Barat. Keinginan ini sudah mulai terealisasikan dengan mulai menjalin kerjasama dengan peternak dari Kawasan Garut.

Mantap Praja dan Rahsa Keadilan Pilkada

dok.chandraekajaya

PENGAMANAN Pilkada lewat operasi “Mantap Praja” di tujuh provinsi dan 94 kabupaten/kota di Indonesia sukses digelar. Kapolri dengan lugas tegas mengatakan di depan Komisi m DPR (Rabu 22/2/2017): Dan dalam konteks itu beliau mengingatkan: “Kami melakukan conditioning pengamanan bukan conditioning memenangkan pasangan tertentu”.

Hal mana berhasil mengamankan proses pencoblosan 15 Februari di seluruh penjuru tanah air. Namun jajaran Polri tetap waspada dan mengantisipasi kerawanan pada masa penghitungan suara. Teristimewa pontesi dan aksi kekerasan pada pada beberapa daerah di negri ini,, yang memperlihatkan fenomena ketidakpuasan dan kegaduhan politik di antara warga pemilih akibat adanya dugaan penipuan dan menguatnya nafeu kekerasan.

Tulisan berikut mencoba menelisik makna filosofis mantap praja dan rasa keadilan dan diakhiri dengan pertanyaan kecfl yang dimodifikasi dari seorang penyair dunia yang bemama Bertold Biecht “Buat Mereka yang tergoyah” Mantap Praja “Praja” adalah kata Jawa Kuno yang menunjuk pada energi pengertian yang berpusat pada ‘anak tanah’, ‘pribumi’, ”rakyat’, dan ”kerakyatan’. Dalam tradisi kepemimpinan Katolik di Indonesia kata dahsyat ini juga digunakan sebagai indentitas bagi para “pastor pribumi” yang tidak rangkap tugas dan panggilan sebagai para biarawan yang transnasional yang boleh bekerja di seluruh penjuru bumi.

Dengan demikian, Polri yang “mantap praja” adalah Polri yang mantap menyadari jatidirinya sebagai anak kandung pribumi NKRI, yang terpanggil untuk serius merawat ketertiban hidup rakyat dalam negri fnagi tana’), dalam berbangsa, bernegara dan bermasyarakat berdasarkan sumber nilai dan hukum dasar Pancasila dan UUD 45.

Hal mana diaktualkan dalam dan melalui kode etik dan kode perilaku kepolisiannya yang selaras ruang, waktu, relasi, posisi, dan disiplin ke-wenangannya. Mereka didoakan untuk mantap ada dan menjadi bayangkara Negara, yang sadar berasal dari rakyat dan mengabdi untuk membela damai sejahtera, keadilan dan kebenaran, dan sukacita kemanusiaan Nusantara, sebagaimana dirayakan dalam pesta demokrasi Pilkada.

Proses Pilkada dan hasil pesta demokrasi Pilkada tidak selalu berjalan sesuai dengan ‘rasa keadilan’ (sensus justitia) yang berlaku universal Karena itu ada potensi kerawanan dan realitas konfliktif di tengah rakyat yang berbeda pilihan politiknya. Hal mana mempengaruhi kelezatan buah Pilkada dan pemenuhan janji politik dari pasangan yang terpilih untuk memimpin negri.

Dalam konteks seperti ini, terisitime-wa adanya fakta kecurangan, kiranya kita patut mendukung himbauan Kapolri di atas yaitu: “Kalau tidak puas gunakan jalur hukum ke MK”. Apa yang telah diputuskan oleh MK (Mahkamah Konstitusi) tentang hasil Pilkada itu wajib dikawal oleh Polri dan diterima oleh seluruh komponen gatra bangsa. Polri melakukan aksi afirmasi berbasis komitmennya pada keadilan hukum dalam pesta demokrasi Pilkada.

dok.chandraekajaya

Rahsa Keadilan

Rasa atau rahsa dalam perspektif filsafat Jawa (Sindhunata, 2001) dominan terkait dengan tenunan dimensi afektivitas dalam jati diri insani yang menerima dengan pasti kebenaran (dimensi intelektualitas) dari sesuatu. Dalam dunia pendidikan, konsep rahsa ini terkesan mirip dengan pandangan filsuf John Henry Newman tentang illative sense yaitu ‘rasa pengenalan yang mencerahkan’ (illuminasi) tentang sesuatu, baik menyangkut kekurangan dan kelebihan, kelemahan dan kekuatan dari sesuatu, d 11, yang mengadaikan adanya kemungkinan dan batas-batas ruang lingkup perspektif dan perwujudannya.

Semacam “phronesis” sebagaimana diwartakan Aristoteles, yakni sebentuk kebijaksanaan, yang di satu sisi mengakui keterbatasan pengetahuan kita tentang sesuatu dan di sisi yang lain kita memperoleh kepastian (pencerahan) tentang kebenaran real tentang sesuatu dari aspek tertentu, yang ada dalam ruang lingkup terbatas tersebut Dalam dan melalui ruang lingkup itu manusia memiliki rasha tentangnya. Orang Bajawa/NageKeo/ Ende Lio bilang:

“Ja’o rasha” Bagaimana hal itu diterapkan dalam konteks “rasa keadilan” dalam pesta demokrasi Pilkada di NKRI? Dalam refleksi Ja’o, penilaian tentang rahsa keadilan itu sebaiknya mempertimbangkan perspektif keadilan atau ruang lingkup keadilan dari para pihak yang terlibat aktif dalam tindakan demokrasi Pilkada itu. Secara akderrak sekurang-kurangnya ada lima jenis ruang lingkup keadilan. Yaitu (1) keadilan distributif (ketepatan pembagian); (2) keadilan komutatif (kesamaan kesempatan); (3) keadilan hukum (kesamaan perlakuan hukum/aturan); (4) keadilan prosedural (kesamaan pelaksanaan pro-sedural); dan keadilan sosial (terkait dengan kesamaan status sosial berasis status personal).

Dalam konteks NKRI dewasa ini, sumber nilai dan penilaian bersama bagi seluruh rakyat dan segenap tumpah darah Indonesia dari Sabang sampai Merauke untuk semua jenis keadilan itu adalah nilai Pancasila dan UUD 45 yang telah diamandemen. Karena itu pemahaman dan perjuangan yang terkait dengan rahsa keadilan distributif, rasa keadilan komutatif, rasa keadilan hukum, rasha keadilan prosedural, dan rasha keadilan sosial yang dikawal Polri dalam Pilkada itu, sepatutnya tidak dimaknai dengan sumber nilai yang lain, seperti nilai etnik Anda dan nilai agama Anda. Aneh tapi nyata, karena masih saja ada saudara sebangsa (Parpol dan DPR), yang dalam konteks demokrasi Pilkada, gemar menikmati politisasi, komersialisasi, dan vulgarisasi nilai agama dan etiniknya di pentas peradaban Indonesia Raya.

Ayat-ayat tuturan adat dan tuturan suci lainnya dipakai untuk kepentingan politik pragmatis Pilkada dan penyelenggaraaan berbangsa dan bernegara pada umumnya yang tidak memenuhi syarat “rasha keadilan’.

Buat rekan yang tergoyah, yang pilihannya kalah dan mungkin dalam penyelengggaraan kepemimpinan baru selanjutnya digeser atau digusur baiklah kita menikmati beberapa penggalan modifikasi puisi Bertold Biecht berikut Ada seorang kawan bilang:
Sekarang setelak sekian 1ama membanting tulang Kita malah terjerumus dalam kesukaran Yang lebih parah dari pada awal perjuangan

Makin sedikit kawan kita

Makin tak keruan tutur kata dan tindakan kita

Apakah kita hanyalah yang tersisa

Tunggulah terlempar keluar dari Nusantara.

Dua Pencuri Sawit PTPN3 Rambutan Dibekuk

Dua Pencuri Sawit PTPN3 Rambutan Dibekuk

Dua di antara tiga tersangka pencuri sawit milik PTPN3 Rambutan dibekuk petugas Bawah Kendali Operasi (BKO) Polri serta intel kodim, Rabu (1/3) sore. Ketiga tersangka, Rommy Tanjung  Erwin dan M Efendi Damanik, kesemuanya warga Lingkungan I, Kelurahan Tanjung Marulak Hilir, Kecamatan Rambutan.

Di antara ketiganya, M Effendi Damanik yang merupakan residivis terpaksa ditembak karena melawan menggunakan senjata tajam, sedangkan Erwin berhasil melarikan diri.

Inforamasi dihimpun wartawan melalui Kasi Propam Polres Tebingtinggi Iptu Yan Bert Hutagalung didampingi Kasubbag Humas AKP MT Sagala, Kamis, membenarkan peristiwa penembakan pelaku pencurian sawit milik PTPN3 Kebun Rambutan di areal Blok 300 Af-deling I Pondok Ringin Desa Paya Bagas, Sergai.

Dijelaskannya, kejadian berawal saat petugas pengamanan kebun (centeng) melakukan patroli di lingkungan kebun melihat lima lelaki pencuri sawit, yakni Erwin, Romy dan Effendi mengendarai becak bermotor mengangkut janjangan sawit.

Dua Pencuri Sawit PTPN3 Rambutan Dibekuk

Lantas, centeng yang melihat itu menginformasikannya ke intel kodim yang bertugas di PTPN3 serta anggota BKO Polri yang langsung turun ke lapangan guna menangkap ketiga pelaku.

Namun saat petugas akan mengamankan ketiganya, salah seorang pelaku, Effendi Damanik melawan dan melarang membawa ketiga pelaku bersama barang bukti.

Setelah melepaskan tembakan peringatan tiga kali agar menyerahkan diri namun tetap tak digubrik, akhirnya petugas melepaskan tembakan mengarah ke paha kanan Effendi sehingga berhasil dilumpuhkan dan selanjutnya dilarikan ke Rumah Sakit Sri Pamela di Jalan Sudirman Tebingtinggi.

Seorang pelaku, Romy Tanjung, ditangkap tanpa perlawanan. Sedangkan seorang lagi, Erwin, berhasil melarikan diri. Saat dimintai keterangan, Rommy mengaku saat beraksi mereka membawa tiga senjata tajam berupa sangkur, parang panjang dan samurai yang digunakan untuk mengancam petugas.

Diakui Rommy, dia pernah dihukum lima bulan penjara akibat berkelahi, sedangkan Effendi Damanik pernah dihukum sembilan bulan penjara dalam kasus penyiraman bensin ke tubuh petugas brimob saat ketahuan mencuri sawit milik PTPN3 Kebun Rambutan.

Tindakan Kriminal Terhadap Pengamen

dok.chandraekajaya

Malam itu Kholidin menutup warung nasinya lebih cepat. Hujan yang mengguyur menjadi alasan. Sekitar jam 7.30 malam itu, pria asal Tasikmalaya, Jawa Barat itu mulai berbenah.

 

Setelahnya, ia lanjut ibadah di lantai dua rumah sekaligus tempat jualannya. Baru selesai berdoa, tiba-tiba terdengar suara keramaian di depan warungnya.

 

“Habis shalat, saya dengar ada suara orang ramai-ramai di depan. Tapi saya cuekin saja,” ujarnya kepada Lampu Hijau, Minggu (26/2). Seiring Kholidin abaikan, suara keramaian semakin lantang terdengar. Karena itu, setelah menyelesaikan ibadahnya, penjaja masakan Sunda itu akhirnya memutuskan menengok asal-usul suara.

 

“Saya turun, eh taunya banyak orang pada berkerumun di depan warung saya. Pas saya lihat, ada pemuda luka berdarah, tergeletak. Itu sekitar jam 8 lewat,” kata dia. Menurut Kholidin, pemuda itu ketika pertama kali ia saksikan itu masih bernyawa. Pemuda tersebut diketahui bernama Tengku Muhammad Murdiansyah. Cowok 23 itu berprofesi pengamen. Namun, tak lama berselang ia tiada. Hal ini dipastikan oleh warga yang sempat mengecek jantung dan nadinya.

 

Penyebab kematian Tengku cukup mengerikan. “Lukanya di leher, kayak digorok gitu,” ucapnya. Di samping jasad Tengku, didapati tergeletak biola. Alat musik itu dalam keadaan hancur. Lalu, para pengamen yang biasa nongkrong di kolong fly over Tanjung Barat, Jakarta Selatan datang dan mengerubungi jasad Tengku.

 

“Jadi teman-temannya sesama pengamen teriak, Tengku mati. Tengku mati. Ada yang nangis juga,” papar dia. Kholidin yang mengaku ketakutan dengan kejadian itu, memilih masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian polisi yang tiba di lokasi, memasang garis polisi di TKP.

 

Kanit Reskrim Polsek Metro Jagakarsa, Iptu Sofyan Suri, menjelaskan Tengku tewas setelah berduel satu lawan satu. Anak jalanan tersebut meregang nyawa setelah dilukai perut dan lehernya menggunakan pisau.

 

“Sebelumnya korban sempat ditusuk di perut, lalu kabur. Nah ketika ketangkap lagi sama pelaku, baru dilukai lehernya,” ujarnya ketika dihubungi.

 

Biola yang rusak, diduga menjadi senjata Tengku melawan pelaku. Kendati begitu, belum jelas identitas pelaku. Pun halnya dengan motif yang menyebabkan aksi baku bunuh tersebut. Pengungkapan menjadi terhambat, lantaran dari kedelapan saksi yang diperiksa hanya menyaksikan Tengku sudah tergeletak tak bernyawa.

“Kami periksa 8 saksi dari rekan sesama pengamen, mereka bilang nggak tahu siapa pelaku. Penyebabnya dan ketika korban lari dikejar pelaku juga nggak tahu. Mereka hanya tahu ketika korban sudah geletak di jalan ” tutur Sofyan.

Namun demikian, polisi mengaku telah mengetahui orang-orang yang dicurigai sebagai pelaku. “Tapi belum bisa kita sampaikan. Doakan saja dalam waktu dekat tertangkap,” tandasnya. Jenazah Tengku kini disemayamkan di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Hingga berita dibuat, belum ada keluarga yang menjemput jenazah.

PT Chandra Ekajaya Oil Harapkan Kedatangan Raja Salman Berimbas Positif Bagi Sektor Migas Nasional

Dok.Chandra Ekajaya

Dok.Chandra Ekajaya

Kunjungan Raja Salman ke Indonesia pada tanggal 1 maret 2017 sudah membuat pembicaraan di semua kalangan di Indonesia bahkan terdengar oleh Chandra Ekajaya. Bukan soal jumlah rombongan yang dibawa yang di perkirakan membawa 1500 pengawal dan 25 pangeran dan 10 menteri, melainkan mengenai dampak yang kan ditimbulkan dari kedatangan sang Raja Arab Saudi ini.

Kedatangan Raja Salman menjadi instimewa menurut Chandra Ekajaya karena kedatangan sang raja selain pastinya akan mempererat kerjasama bilateral antara Indonesia dan Arab Saudi, juga Raja Salman membawa nilai investasi di  berbagai sekor salah satunya sektor MIGAS yang diperkirakan mencapai 300 triliun lebih.

Dok.Chandra Ekajaya

Arab Saudi sendiri merupakan salah satu negara produsen minyak terbesar di dunia. Hal ini membawa angin segar terhadap para pengusaha minyak dan gas yang ada di Indonesia. Investasi yang dibawa dan kerjasama dalam sektor migas diharapkan oleh PT Chandra Ekajaya Oil dan perusahaan minyak dan gas lainya akan berdampak baik terhadap iklim perusahaan Migas di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi produsen minyak asal Timur Tengah itu tercatat hanya sekitar 900.000 dollar AS. Jika dihitung dengan asumsi kurs 13.300, maka investasinya hanya sekitar Rp 11,97 miliar.

Realisasi investasi ini menempatkan Arab Saudi pada urutan ke-57 dari 121 negara yang menanamkan modal ke Indonesia, yang masuk melalui BKPM.

Terlebih dalam kunjungannya ke Indonesia salah satu kerjasama yang akan ditandatangani adalah penandatanganan investasi Saudi Aramco dalam perluasan proyek kilang Cilacap senilai US$ 6 miliar. Selain itu, akan ada beberapa kontrak lain dengan nilai mencapai US$ 1 miliar.

Chandra Ekajaya Bicara Perpindahan Penduduk

Dok.Chandra Ekajaya

Dok.Chandra Ekajaya

Pengusaha Chandra Ekajaya dalam pencariannya terhadap pribumi, mendapatkan keterkaitan antara pribumi dan mobilitas. Dengan meningkatnya mobilitas penduduk di dalam negeri maupun secara global, batasan pribumi dan nonpribumi ini makin rancu. Makin sulit ditentukan keturunan seseorang, baik dari keturunan darah, etnisitas maupun tempat lahir.

Ambil saja salah seorang warga di Jakarta bernama Sarinah, misalnya. Namanya nama Jawa. Namun, Sarinah tidak dapat berbahasa Jawa sama sekali, tidak dapat menari Jawa, membatik atau memasak gudeg, bahkan tidak suka makan/minum yang manis-manis. Tempat kelahirannya di Palembang dan setelah menikah dengan pria Bugis, mereka pindah dan menetap di Jakarta. Namun jika ditanya, Sarinah mengaku orang Jawa. Anak-anaknya merasa orang Bugis, atau Bugis campur Jawa, sekalipun hanya dapat berbahasa Indonesia dengan dialek Jakarta. Identitas diri menjadi lebih ruwet dan rancu jika ditambah dengan unsur agama.

Pengusaha Chandra Ekajaya menambahkan bahwa karena itu dibuatlah batasan pribumi Nusantara, yaitu orang yang berjuang, lahir, dan cinta dengan ibu pertiwi. Dalam batasan ini kelompok etnis Tionghoa, Arab dan ‘indo’ atau campuran tetap dianggap nonpribumi (meski mereka menetap selama beberapa generasi di kepulauan Nusantara) karena nenek moyang mereka berasal Cina, Timur Tengah atau Eropa.

Dok.Chandra Ekajaya

Di AS

Pribumi Amerika Serikat (AS) adalah suku Indian dan Inuit (dulu disebut Eskimo). Ras kulit putih datang dari Eropa sedangkan yang berkulit hitam datang dari Afrika. Juga belakangan banyak pendatang dari Amerika Selatan dan Asia.

Namun, sekarang Presiden Trump justru merasa bahwa Amerika Serikat itu milik orang kulit putih, sehingga semua imigran berkulit berwarna dianggap bukan orang Amerika dan diusir, meski mereka telah hidup di Amerika selama beberapa generasi. Menurut pengusaha Chandra Ekajaya, politik telah memutar balik sejarah : Amerika yang merupakan negara imigran, sekarang mengusir imigran. Memang identitas kesukuan mudah sekali dijadikan faktor pencetus diskriminasi, memberi label negatif, terutama jika pihak yang memegang kekuasaan atau yang menjadi mayoritas, merasa iri terhadap kelompok yang berbeda suku, warna kulit ataupun agamanya.

Yohanes Eka Jaya Chandra Peduli Kota Kayangan Kucurkan Dana 10 Miliar

Dok.Yohanes Eka Jaya Chandra

Dok.Yohanes Eka Jaya Chandra

Kota Kayangan menjadi perhatian dari Yohanes Eka Jaya Chandra Kota Kayangan merupakan tempat asal dimana dahulu Chandra Ekajaya pernah hidup disana, di Kota Kayangan Yohanes Eka Jaya Chandra pernah menjalani kehidupan masa kecilnya dari bangku TK sampai dengan SD.

Dana awal yang di berikan oleh Yohanes Eka Jaya Chandra senilai 10 miliar untuk pembangunan dan  penambahan berbagai fasilitas mulai dari sara tempat bermain, perbaikan fasilitas taman kota dan juga membantu beberapa TK dan Rumah Sakit Swasta disana.

Yohanes Eka Jaya Chandra menyebutkan bahwa dirinya sangat mendukung segala pembangunan fasilitas-fasilitas yang sekiranya untuk kebaikan masyarakat bersama kedepannya. Hal ini menjadi hal yang ingin selalu diwujudkan sebagai bentuk apresiasi bahwa dirinya pernah dibesarkan di Kota ini.

Tak hanya pembangunan fasilitas saja, Yohanes Eka Jaya Chandra juga mendukung upaya penanggulangan kemiskinan melalui tiga pemafaatan, yaitu pendidikan, pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kualitas hidup.

Dok.Yohanes Eka Jaya Chandra

Selain pembangunan fasilitas penunjang yang sudah ada, Yohanes Eka Jaya Chandra menyebutkan bahwa dirinya juga bekerjasama dengan pemerintah dan badan kesehatan baik pemerintah maupun swasta untuk terlibat dalam berbagai kegiatan untuk meningkatakan kesehatan masyarakat.

“bukan hanya kami saja yang turun aktif, kami juga menggandeng pihak lain untuk memaksimalkan tujuan kami,”ujar Yohanes Eka Jaya Chandra.

Pihaknya turut mendukung upaya perbaikan akses terhadap fasilitas umum lainnya, seperti pembangunan fasilitas air bersih, membangun dan merenovasi drainase untuk sistem sanitasi.

Pada tahun sebelumnya Yohanes Eka Jaya Chandra memang sudah secara rutin selalu memberikan bantuan di bidang pendidikan lewat beasiswa untuk para mahasiswa dan pelajar mulai dari tingkat SD, SMP dan SMA bahkan Kuliah di Kota Kayangan.

Upaya Yohanes Eka Jaya Chandra ini mendapat aprsiasi dari masyarakat dan juga pemerintah setempat. Para warga sangat merasa terbantu dengan program yang dilakukan oleh Yohanes Eka Jaya Chandra. Banyak warga yang berharap jika program semacam ini akan terus berlanjut. Pemerintah diwakili oleh pejabat terkait juga sangat senang dengan bantuan oleh Yohanes Eka Jaya Chandra, kerjasam di berbagai sektor akan semakin meningkatkan kesejahteraan dna kualitas hidup masyarakat Kota Kayangan kedepanya.

Chandra Ekajaya Oil Peduli Anak Yatim

Dok.Chandra Ekajaya

Dok.Chandra Ekajaya

Chandra Ekajaya selaku pemilik Chandra Ekajaya Oil menekankan bahwa perusahaan harus memiliki nilai kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya. Hal semacam ini dirasa sangat penting karena bagaimana juga lingkungan yang kondusif akan mendukung keberhasilan usaha dari perusahaan itu sendiri.

Perusahaan jangan pernah beranggapan bahwa hal ini menjadi beban terhadap lingkungan sekitar. seharusnya perusahaan lebih memandang lingkungan sekitarnya mulai dari warga masyarakat yang berada di sekitar lokasi perusahaan sebagai bagian keluarga yang tidak bisa dipisahkan dari perusahaan, dengan kondisi lingkungan yang kondusif akan memberikan pengaruh yang positif terhadap kegiatan perusahaan.

Hal inilah yang selalu di tekankan oleh Chandra Ekajaya Oil selaku perusahaan minyak dan gas, yang selalu  ikut dan berperan aktif dalam menjaga lingkungan dan kepedulian terhadap masyarakat. Chandra Ekajaya Oil memiliki yayasan Chandra Ekajaya Oil Peduli, di dalamnya terdapat berbagai macam kegiatan sosial mulai dari santunan rutin anak yatim piatu dan orang tidak mampu.

Dok.Chandra Ekajaya

Yayasan ini bergerak di bidang sosial, dan dari yayasan ini sepenuhnya diambil dari dan perusahaan yang sudah sengaja di sisihkan untuk kegiatan sosial. Saat ini yayasan Chandra Ekajaya Oil sudah memiliki hampir 500 anak yatim yang secara rutin mendapat santunan uang setiap bulanya. Bukan hanya itu yayasan Chandra Ekajaya Oil juga memberdayakan masyarakat sekitar untuk bisa berwirausaha mandiri dengan melakukan program pemberian modal usaha. Modal usaha ini bisa di cicil nantinya ketika usaha mereka sudah berjalan dan menghasilkan, namun tetap dipantau oleh perusahaan dan pastinya pinjaman tesebut tanpa bunga sepeserpun.

“ ini adalah komitmen kami, kami ada bersama masyarakat dan itulah yang selalu menjadi pegangan kami” Chandra Ekajaya.

Chandra Ekajaya Oil juga berencana akan membuka sekolah atilit untuk ikut serta membangun generasi pemuda bangsa yang berkontribusi terhadap bangsa dan negara dengan pelatihan olahraga. Kegiatan ini rencananya akan dibuka pada awal tahun 2019.