Chandra Ekajaya Bicara Perpindahan Penduduk

Pengusaha Chandra Ekajaya dalam pencariannya terhadap pribumi, mendapatkan keterkaitan antara pribumi dan mobilitas. Dengan meningkatnya mobilitas penduduk di dalam negeri maupun secara global, batasan pribumi dan nonpribumi ini makin rancu. Makin sulit ditentukan keturunan seseorang, baik dari keturunan darah, etnisitas maupun tempat lahir.

Dok.Chandra Ekajaya

Ambil saja salah seorang warga di Jakarta bernama Sarinah, misalnya. Namanya nama Jawa. Namun, Sarinah tidak dapat berbahasa Jawa sama sekali, tidak dapat menari Jawa, membatik atau memasak gudeg, bahkan tidak suka makan/minum yang manis-manis. Tempat kelahirannya di Palembang dan setelah menikah dengan pria Bugis, mereka pindah dan menetap di Jakarta. Namun jika ditanya, Sarinah mengaku orang Jawa. Anak-anaknya merasa orang Bugis, atau Bugis campur Jawa, sekalipun hanya dapat berbahasa Indonesia dengan dialek Jakarta. Identitas diri menjadi lebih ruwet dan rancu jika ditambah dengan unsur agama.

Pengusaha Chandra Ekajaya menambahkan bahwa karena itu dibuatlah batasan pribumi Nusantara, yaitu orang yang berjuang, lahir, dan cinta dengan ibu pertiwi. Dalam batasan ini kelompok etnis Tionghoa, Arab dan ‘indo’ atau campuran tetap dianggap nonpribumi (meski mereka menetap selama beberapa generasi di kepulauan Nusantara) karena nenek moyang mereka berasal Cina, Timur Tengah atau Eropa.

Dok.Chandra Ekajaya

Di AS

Pribumi Amerika Serikat (AS) adalah suku Indian dan Inuit (dulu disebut Eskimo). Ras kulit putih datang dari Eropa sedangkan yang berkulit hitam datang dari Afrika. Juga belakangan banyak pendatang dari Amerika Selatan dan Asia.

Namun, sekarang Presiden Trump justru merasa bahwa Amerika Serikat itu milik orang kulit putih, sehingga semua imigran berkulit berwarna dianggap bukan orang Amerika dan diusir, meski mereka telah hidup di Amerika selama beberapa generasi. Menurut pengusaha Chandra Ekajaya, politik telah memutar balik sejarah : Amerika yang merupakan negara imigran, sekarang mengusir imigran. Memang identitas kesukuan mudah sekali dijadikan faktor pencetus diskriminasi, memberi label negatif, terutama jika pihak yang memegang kekuasaan atau yang menjadi mayoritas, merasa iri terhadap kelompok yang berbeda suku, warna kulit ataupun agamanya.

Baca juga  artikel mengenai pengusaha Chandra Ekajaya .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *