Seberkas Tinta Emas Sang Sastrawan Indonesia Pramoedya Ananta Toer

Dok.Yohanes Chandra Ekajaya

Pram atau Pramoedya Ananta Toer, demikian dirinya disapa, pria kelahirab di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925. Ayahnya bernama Mastoer Imam Badjoeri, seorang guru yang tadinya bekerja untuk sekolah dasar pemerintah, HIS, di Rembang Jawa Tengah. Ayahnya lantas menjadi kepala sekolah milik pergerakan Boedi Oetomo di Blora Jawa Tengah, sementara sang ibu Pram, Saidah, adalah anak seorang penghulu.

Penghasilan dari guru Boedi Oetomo sangatlah kecil dimasa itu, sehingga ibunya harus mencari penghasilan tambahan dengan harus bekerja di sawah atau pekarangan rumah orang lain. Sang ayah, seorang nasionalis. Pram kecil tak sepintar yang diharapkan oleh ayahnya. Pramoedya Ananta Toer sempat tidak naik sekolah tiga kali. Keadaan bertambah buruk saat ibunya meninggal karena menderita penyakit TBC pada usia 34 tahun, kemudian Pram lantas pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib.

Pram akhirnya menjadi seorang penulis di Jakarta, karya pertamanya yang dibuat adalah Kranji-kranji Jatuh, Perburuan, dan Keluarga Gerilya. Di Jakarta Pram bekerja di kantor berita milik Jepang, Domei. Sebenarnya Pram tidak ingin sama sekali bekerja untuk Jepang, karena bagi Pram, bekerja dengan Jepang sama saja menjadi bagian dari jepang. Namun karena Pram terpaksa harus mencari nafkah untuk ke 8 (delapan) adiknya tersebut, Pram pun, dengan terpaksa, harus menerima bekerja bersama Jepang tersebut. Gaji yang diterima pram sapaan dari Pramoedya Ananta Toer selalu dikirimkan ke blora untuk kedelapan adiknya tersebut.

Di waktu sela nya bekerja, pram selalu menyempatkan untuk menimba ilmu untuk semakin memperkaya khazanah ilmu pengetahuanya. Pram bahkan masuk di dalam lembaga pembelajaran Taman Siswa, ketika siang hari pram harus bersekolah di Taman Siswa kemudian sore harinya pram bekerja di Domei. Pram sendiri lulus dari Taman Siswa pada tahun 1945, Tidak sampai disitu saja Pram pun melanjutkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Islam, Dondangdia. Di Sekolah Tinggi Islam inilah Pram belajar Filsafat, Sosiologi, dan Psikologi. Sementara itu Pram tetap terus bekerja untuk Jepang di Domei.

Dok.Yohanes Chandra Ekajaya

Sebagai satrawan Nasionalis, Pramoedya Ananta Toer memiliki kecintaan terhadap bangsa dan negaranya. Pram pun banyak menghasilkan karya-karya yang mengandung unsure perlawanan terhadap belanda. Dan sebab dari tulisannya itulah pram di jebloskan kedalam penjara. Setelah Pram dibebaskan dari dalam penjara, keadaan situasi politik di Indonesia semakin tidak menentu. Dan hal ini lah yang kemudian menyeret meletusnya peristiwa 30 September 1965 atau G30 SPKI. Peristiwa tersebut dianggap oleh Soeharto PKI lah sabagai biang keladinya, atas dasar inilah kemudian Soeharto dan militer membersihkan orang-orang PKI dan berbagai organisasi yang berafiliasi serta berhubungan dengan PKI, termasuk Lekra dimana Pram ada di dalamnya. Dianggap sebagai simpatisan PKI, Pram pun akhirnya ditanggap oleh rezim militer Soeharto dan dijebloskan ke kamp konsentrasi, Pulau Buru.

Namun bukan nya tidak produktif, pram pun semakin produktif dengan mengahsilkan berbagai karya sastra. Karya sastra nya ini pun terkenal hingga sampai keluar Negeri. Bahkan dirinya mendapat  berbagai macam penghargaan dari dalam dan luar Negeri atas karya sastra nya tersebut. Bahkan banyka karya sastra nya yang dijadikan film dn sudah di terjemahkan di lebih 50 bahasa di dunia.

Saat ini pram telah pergi menghadap sang pencipta, tanggal 30 april 2006 menjadi hari terkahir bagi dirinya menghembuskan nafas nya. Pram di indikasi menderita penyakit radang paru-paru dari kegemaranya merokok, serta ada beberapa penyakit komplikasi lainya yang juga menyerang badanya. Pram telah pergi namun karya-karya nya masih terus dikenang oleh masyarakat Indonesia bahkan dunia tak terkecuali seorang Yohanes Chandra Ekajaya yang menjadikanya sebagai salah satu teladan pemikiran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *