Yohanes Chandra Ekajaya Kenalkan Hemat Sejak dari Kecil

Menabung bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi, bisa menahan hawa nafsu konsumtif untuk membeli yang tidak diperlukan. Di sisi lain, bisa jadi penyemangat untuk mengumpulkan uang demi membeli produk impian.

Namun, menabung juga bisa dibilang perkara ‘susah-susah gampang’ jika tidak dibiasakan sejak dini. Jika sudah terbiasa menabung sejak kecil, menabung di kala dewasa menjadi lebih mudah.

Yohanes Chandra Ekajaya Duit

Yohanes Chandra Ekajaya, pegawai swasta di Jakarta, mengaku sejak kecil sudah terbiasa menabung. Sejak sekolah dasar (SD), orang tuanya mengajarkan menabung dengan menitipkan uang untuk di tabung di koperasi sekolah.

“Setiap hari, saya diberikan uang oleh ibu Rp 1.000 sampai Rp5.000 khusus untuk ditabung,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (29/1).

Ketika itu, ujar Yohanes Chandra Ekajaya, aktivitas menabung di koperasi sekolah itu memicu kompetisi dengan teman sekelas.

“Kalau nabung Rp5.000 dianggap orang kaya, yang jarang menabung disebut enggak punya uang. Dari situ, bersama teman-teman, kami bersemangat menabung walaupun masih dari uang orang tua,” ceritanya sambil tertawa kecil.

Selanjutnya, mulai kelas 5 SD, Yohanes Chandra Ekajaya menabung dari sisa uang sakunya sendiri, bukan titipan dari orang tuanya. Hijuannya untuk membeli mainan yang diinginkannya.

Yohanes Chandra Ekajaya Budget

Aktivitas itu berlanjut sampai dia kuliah, ketika Yohanes Chandra Ekajaya pertama kali berkenalan dengan bank. Dengan uang saku bulanan senilai Rp2 juta, pria ini mengelola uangnya agar pengeluaran benar-benar untuk kebutuhan seperti, makan, buku, tugas praktik, dan jatah hiburan.

Kebiasaan sejak kecil itu mengantarkan Yohanes Chandra Ekajaya untuk melanjutkan menabung saat sudah berkerja dan memperoleh penghasilan sendiri. Yohanes Chandra Ekajaya memilih menyimpan dananya di beberapa produk bank seperti, deposito dan tabungan berjangka.

BUKAN INVESTASI

Dia menjelaskan, deposito digunakan untuk menyimpan dana yang belum akan terpakai dalam jangka panjang, sedangkan tabungan berjangka digunakan agar bisa menyisihkan pendapatan bulanan secara otomatis ke rekening khusus produk bank tersebut.

“Kalau sudah kerja kan godaan konsumsinya semakin tinggi, jadi harus lebih ketat lagi pengelolaannya. Saya juga tidak memikirkan tingkat bunga deposito dan tabungan berjangka, karena tujuannya menabung bukan investasi,” jelasnya.

Yohanes Chandra Ekajaya Money

Bukan hanya Yohanes Chandra Ekajaya. Ririn, pegawai swasta di Ibukota, juga bercerita budaya menabung yang dimulai sejak dirinya mendapatkan celengan berbentuk bebek dari orang tuanya saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK). Tabungan itu digunakan untuk membeli sesuatu yang sangat diinginkannya.

“Ketika kelas tiga SD, saya sudah tidak menabung lewat celengan lagi, mungkin merasa sudah dewasa. Sejak itu, saya menyimpan uang tabungan di tempat khusus yang enggak perlu dipecahin kalau mau diambil,” ujarnya.

Ririn yang mulai berkenalan dengan bank pada saat kuliah itu menyebutkan, untuk saat ini dia memilih deposito selain tabungan reguler. “Alasannya pilih deposito lebih karena aman untuk menabung, terus dapat imbal hasil juga,” ujarnya.

Bila itu kisah menabung masa kanak-kanak dari generasi sebelum era Internet, maka kini bisa jadi berbeda. Untuk para pelajar, Otoritas Jaga Keungan (OJK) sebagai regulator jasa Jaga meluncurkan produk simpanan pelajar (Simpel).

Produk khusus pelajar ini juga mempunyai karakter berbeda dengan tabungan biasanya, yakni setoran awal Rp5.000 dan setoran selanjutnya minimal Rp 1.000 serta tidak ada biaya administrasi.

OJK menyebutkan, sampai Desember 2016, jumlah rekening Simpel mencapai tiga juta rekening dengan nominal Rp842,77 miliar. Sebelumnya, sampai September 2016, tercatat lebih dari 200 bank menyediakan produk khusus pelajar ini. Jumlah bank konvensional dan syariah yang menyediakan produk simpel mencapai 51 bank.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *