Yohanes Chandra Ekajaya Menelisik Problematika Harga Cabe

Yohanes Chandra Ekajaya Cabai

Yohanes Chandra Ekajaya

(Pengusaha Semi Kawakan yang Nyentrik Dengan Gaya Cihuy)

HARGA cabe saat ini kembali turun setelah dalam beberapa minggu sebelumnya meroket cepat dan drastis. Ini terjadi tidak hanya di beberapa daerah, melainkan merata di seluruh wilayah Indonesia. Naiknya harga cabe berpengaruh besar pada ekonomi masyarakat Indonesia sendiri. “Cabe merupakan salah satu produk pertanian yang utama bagi masyarakat Indonesia” ujar Yohanes Chandra Ekajaya. Selain itu, banyak sekali jenis makanan di Indonesia yang menggunakan jenis sayuran yang satu ini. Oleh sebab itu, ketika harga ‘si pedas’ naik banyak masyarakat yang mengeluhkannya.

Yohanes Chandra Ekajaya Cabai Setan

Ada satu pendapat yang menarik perhatian Yohanes Chandra Ekajaya dari seorang guru yang dijumpai di Pasar Pitalah (Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar) yang mengatakan bahwa harga-harga produk pertanian akan selalu naik dari satu periode ke periode lainnya. Walaupun mengalami penurunan, tetapi sangat sulit untuk kembali ke harga normal sebelumnya. Guru ini berpendapat meroketnya harga cabe dipengaruhi oleh beberapa faktor pendorong. Salah satunya adalah tidak seimbangnya jumlah produksi dari cabe dengan jumlah penduduk yang mengkonsumsinya sehingga tentu saja harga cabe akan selalu mengalami kenaikan.

Yohanes Chandra Ekajaya pedagang cabai

Bisa jadi, pendapat guru tersebut sejalan dengan pemikiran Yohanes Chandra Ekajaya merujuk dari hukum permintaan dan penawaran dalam ilmu ekonomi, di mana ketika jumlah barang yang ditawarkan sedikit dan permintaan akan barang tersebut banyak maka harga barang tersebut tentu saja akan mengalami kenaikan. Ini tentu saja juga terjadi ketika harga cabe meroket naik dengan tajam dalam beberapa minggu yang lalu. Walau pun ada beberapa faktor yang menyebabkan jumlah cabe di pasar mengalami penurunan yang membuat harga cabe mengalami kenaikan yang tinggi.

Pendapat guru ini menurut penulis cukup rasional. Secara umum jika kita melihat data dari Badan Pusat Statistik dari segi jumlah penduduk Indonesia dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Bersumber dari data ya ng dihimpun Biro Pusat Statistik, jumlah penduduk Indonesia di tahun 2000 lebih kurang 207juta jiwa, kemudian naik di tahun 2010 lebih kurang 238 juta jiwa, dan diperkirakan di tahun 2015 sebesar  255 juta jiwa serta tahun 2020  271 juta jiwa. Peningkatan jumlah penduduk dari tahun ke tahun tentunya harus didukung oleh peningkatan jumlah produksi pangan. Harga cabe yang naik secara tajam tentunya menandakan bahwa jumlah produksi tidak mendukung jumlah penduduk yang mengalami peningkatan.

Ketidakseimbangan antara jumlah penduduk yang akan mengkonsumsi cabe dengan jumlah produksi dipengaruhi oleh banyak faktor. Akan tetapi menurut guru di atas jumlah tenaga kerja yang akan mengolah dan memproduksi cabe dan jumlah lahan untuk memproduksinya adalah faktor yang tidak kalah penting. Banyaknya jumlah pengangguran di Indonesia barangkali bisa diberdayakan sebagai sumber tenaga kerja. Selain itu, jumlah lahan pertanian Indonesia yang luar biasa juga mesti diberdayakan lebih optimal.

Hal yang sangat miris bagi Yohanes Chandra Ekajaya adalah ketika rasa malu karena bekerja dalam bidang pertanian juga harus diubah dan masyarakat secara luas maupun generasi muda harus lebih mempertimbangkan pekerjaan dalam bidang pertanian, tentunya dengan adanya perubahan perspektif disbanding masa lalu. Sebab tidak hanya di bidang industri, bidang pertanian tetap memiliki potensi nilai ekonomi yang tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *